Sidoarjo – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Sidoarjo menggelar penyuluhan edukasi Paham AI (Artificial Intelligence) bagi murid MAN Sidoarjo, Jumat (2/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung H. Maksum AF ini dimulai pukul 07.30 WIB untuk meningkatkan pemahaman dan literasi digital di lingkungan madrasah. Penyuluhan ini merupakan tindak lanjut dari Training of Trainers (TOT) program Paham AI tingkat Polda Jawa Timur. Melalui kegiatan ini, murid diharapkan tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Polresta Sidoarjo menerjunkan Tim Trainer Paham AI lintas satuan, yakni Ipda Fiki Jaeng dan Aipda M. Setyawan dari Satlantas, Briptu Sanjung dari Satbinmas, serta Briptu Yoga Adiansyah dari Humas Polresta Sidoarjo. Tim trainer ini bertugas menyampaikan materi sekaligus mendampingi murid selama kegiatan berlangsung. Latar belakang satuan yang beragam membuat penyampaian materi dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang.
Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pengarahan penggunaan website pembelajaran Senopati Academy, platform interaktif untuk belajar kecerdasan buatan. Murid dibimbing langsung mulai dari pembuatan akun hingga mengakses halaman utama platform. Melalui platform ini, murid dapat mempelajari materi secara bertahap sesuai modul yang tersedia.
Platform tersebut menyediakan empat modul, yakni Modul 01: Introduction to AI, Modul 02: Ethical Use of AI, Modul 03: Fighting Hoax with AI, dan Modul 04: AI Prompts 101. Keempat modul itu mencakup pengenalan dasar AI, etika penggunaannya, upaya melawan hoaks, hingga teknik menyusun perintah atau prompt. Setelah mempelajari modul, peserta mengikuti sesi kuis untuk menguji sejauh mana pemahaman mereka.
Kegiatan berlanjut dengan pemaparan materi lanjutan oleh Ipda Fiki Jaeng. Ia berpesan, “AI adalah alat, Anda adalah otaknya. Barang siapa yang menggunakan AI berlebihan, dia adalah yang tidak percaya pada kemampuannya.” Ujarnya. Pesan tersebut menjadi pengingat agar murid memosisikan AI sebagai penunjang belajar, bukan pengganti proses berpikir sendiri. Materi lanjutan ini memperdalam hal-hal yang telah dipelajari murid pada modul sebelumnya.
Menurut Fiki Jaeng, ada tiga poin utama yang harus dipegang pelajar di era digital. Pertama, menyaring dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya guna menekan peredaran hoaks. Kedua, bijak memanfaatkan teknologi dan tidak bergantung sepenuhnya pada AI. Ketiga, ekstra berhati-hati dalam bermedia sosial karena, menurut dia, aktivitas digital dapat diketahui dan dipantau pihak kepolisian. Poin-poin ini disampaikan agar murid lebih kritis dalam menghadapi arus informasi di dunia digital.
Sebagai penutup, peserta mengerjakan studi kasus berbentuk soal cerita yang menandai berakhirnya agenda utama. Soal cerita tersebut menguji kemampuan murid menerapkan materi yang telah dipelajari. Para murid kemudian kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar, sementara tim trainer tetap membuka sesi pendampingan bagi murid yang mengalami kendala selama pembelajaran. (Kyrani Aqila & S.a / JURNALISTIK EL-MANZIL)